Health Akbar Post

Posts For Category

Akbarpost/Penelitian terhadap kematian ibu memperlihatkan bahwa penderita perdarahan post partum meninggal dunia akibat terus menerus terjadi perdarahan yang jumlahnya kadang-kadang tidak menimbulkan kecurigaan kita. Yang menimbulkan kematian bukanlah perdarahan sekaligus dalam jumlah banyak tetapi justru perdarahan terus-menerus yang terjadi sedikit demi sedikit.

Pada suatu studi kasus yang besar, Becham mendapatkan bahwa interval rata-rata antara kelahiran dan kematian adalah 5 jam 20 menit. Tidak seorangpun ibu yang meninggal dalam waktu 1,5 jam setelah melahirkan. Kenyataan ini menunjukan adanya cukup waktu untuk melangsungkan terapi yang efektif jika pasiennya selalu diamati dengan seksama, diagnosis dibuat secara dini, dan tindakan yang tepat segera dikerjakan.

Pada kehamilan cukup bulan aliran darah keuterus sebanyak 500 – 800 ml/menit. Jika uterus tidak berkontraksi dengan segera setelah kelahiran placenta, maka ibu dapat mengalami perdarahan sekitar 350 – 500 ml/menit dari bekas tempat melekatnya placenta. Kontraksi uterus akan menekan pembulu darah uterus yang berjalan diantara anyaman serabut miometrium sehingga menghentikan darah yang mengalir melalui ujung-ujung arteri ditempat implantasi placenta.

Seorang ibu dapat meninggal karena perdarahan pasca persalinan dalam waktu kurang dari 1 jam. Lebih dari 90% dari seluruh kasus perdarahan pasca persalinan yang terjadi dalam 24 jam setelah kelahiran bayi disebabkan oleh atonia uteri. Sebagian besar kematian akibat perdarahan pasca persalinan terjadi pada beberapa jam pertama setelah kelahiran bayi (Li, et all, 1996). Karena alasan ini, penatalaksanaan kala III persalinan yang cepat dan tepat merupakan salah satu cara terbaik dan sangat penting untuk menurunkan angka kematian ibu.

Dimasa lampau, sebagian besar penolong persalinan menatalaksanakan kala III persalinan dengan cara menunggu placenta lahir secara alamiah. Intervensi hanya dilakukan jika terjadi penyulit atau jika kemajuan kala III persalinan tidak berjalan secara normal. Manajemen aktif kala III lebih dikaitkan pada upaya untuk mengurangi kehilangan darah seperti yang terjadi pada penatalaksanaan fisiologi.

Download Asuhan Keperawatan Atonia Uteri

ASKEP Download

Kesehatan/Motivasi berasal dari kata latin “MOVERE” yang berarti “ DORONGAN ” atau “DAYA PENGGERAAK “. Motivasi ini hanya diberikan kepada manusia, khususnya kepada para bawahan atau pengikut. Motivasi dapat didefinisikan sebagai pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang, agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan (M. Hasibuan, 2001). Motivasi adalah suatu kekuatan yang dihasilkan dari keinginan seseorang untuk memuaskan kebutuhannya (misalnya : rasa lapar, haus, dan bermasyarakat). (W. Cascio).

Mereka menciptakan kesempatan untuk kepuasan maksimal, motivasi yang tinggi dan penampilan yang sempurna. Mereka lebih menyenangi kegiatan yang berpusat pada kelompok, kerja kelompok saling terganung, dapat dipercaya dan dapat diramalkan. Manajer perawat bekerja dengan mereka untuk memelihara kebutuhan kelompoknya pada tingkat yang bisda saling menerima.

Motivasi adalah dorongan atau penggerak. Motivasi ini hanya diberikan kepada manusia, khususnya kepada karyawan, parabawahan atau pengikut. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mendorong gairah kerja bawahan,agar mereka mau bekerja keras dengan memberikan semua kemampuan dan ketrampilannya untuk mewujudkan tujuan perusahaan.

Motivasi ini penting karena dengan motivasi ini diharapkan setiap individu karyawan mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi. Mengapa motivasi harus dilakukan pimpinan terhadap bawahannnya?, karena pemimpin membagi-bagikan pekerjaannya kepada para bawahan untuk dikerjakan dengan baik, ada bawahan yang mampu untuk mengerjakan pekerjaannya, tapi ia malas atau kurang gairah mengerjakannya dan untuk memberikan penghargaan dan kepuasan kerja pada bawahannya.

Motivasi ini hanya dapat diberikan kepada individu “ orang-orang yang mampu untuk mengerjakan pekerjaan tersebut bagi orang-orang yang tidak mampu mengerjakan pekerjaan tersebut tidak perlu motivasi karena percuma. Dengan demikian jelas bagi kita bahwa setiap pekerja mempunyai motif(wants) tertentu dan mengharapkan kepuasan dari hasil pekerjaannya.

Teori motivasi dikelompokkan atas :
1. Teori kepuasan
2. Teori Proses

Untuk lebih lengkapnya silahkan download disini

Download Artikel Keperawatan Maternitas

ASKEP 1 Download



Akbarpost/Konsep diri atau self concept merupakan suatu kombinasi dari perasaan dan kepercayaan mengenai diri sendiri.Konsep diri dibutuhkan untuk integritas psikologis sehingga setiap orang mengenal dirinya dan merasa dirinya pantas sesuai apa adanya.Ada 5 komponen konsep diri di antaranya citra diri,ideal diri,harga diri ,identitas diri dan gambaran diri yang kesemuanya adalah satu kesatuan membentuk apa yang disebut sebagai konsep diri.

Gangguan salah satu elemen akan berpengaruh pada sistim konsep diri yang dapat berakibat fatal.Individu bisa bertindak nekat terutama kepada dirinya sendiri ( bunuh diri ) atau juga terhadap orang lain apabila konsep dirinya terganggu karena konsep diri berkaitan erat dengan existensi yang unik dari setiap manusia.

Dalam makalah ini akan dibahas tentang asuhan keperawatan pada penderita yang mengalami gangguan konsep diri khususnya pasien yang mengalami harga diri yaitu harga diri rendah.Seperti disebutkan di atas bahwa harga diri merupakan salah satu elemen pembentuk konsep diri yang sangat berperang dalam menentukan jati diri sesorang.Merong-rong harga diri seseorang sama dengan merong-rong existensinya sebagai individu yang bermartabat.

Orang dengan gangguan harga diri sering sangat nekat terutama pada dirinya sendiri karena ia mungkin merasa tak ada gunanya lagi dirinya.oleh karena itu pasien dengan gangguan harga diri sering ada usaha bunuh diri atau paling tidak mencederai diri sendiri.Perawatan yang benar akan mampu mengembalikan keadaan seseorang dalam melakukan koping terhadap stressor yang menyebabkan gangguan harga diri.

Konsep diri belum ada saat lahir,tetapi berkembang secara bertahap saat bayi dapat membedakan dirinya dari orang lain,mempunyai nama sendiri,pakaian sendiri.Anak mulai dapat mempelajari dirinya,yang mana kaki,tangan,mata dan sebagainya serta kemampuan berbahasa akan memperlancar proses tumbuh-kembang anak.

Konsep diri merupakan hasil dari aktifitas pengeksplorasian dan pengalamanya dengan tubuhnya sendiri.Konsep diri dipelajari melalui pengalaman pribadi setiap individu,hubungan dengan orang lain dan interaksi dengan dunia luar dirinya.Konsep diri berkembang terus mulai dari bayi hingga usia tua.

Pengalaman dalam keluarga merupakan dasar pembentukan konsep diri karena keluarga dapat memberikan perasaan mampu dan tidak mampu, perasaan diterima atau ditolak dan dalam keluarga individu mempunyai kesempatan untuk mengidentifikasikan dan meniru perilaku orang lain yang diinginkanya serta merupakan pendorong yang kuat agar individu mencapai tujuan yang sesuai atau pengharapan yang pantas.Dengan demikian jelas bahwa kebudayaan dan sosialisasi mempengaruhi konsep diri dan perkembangan keperibadian seseorang.

Seseorang dengan konsep diri yang positif dapat mengeksplorasi dunia secara terbuka dan jujur karena latar belakang penerimaanya sukses, konsep diri yang positif berasal dari pengalaman yang positif yang mengarah pada kemampuan pemahaman .

Download Materi Konsep Diri Atau Self Concept

ASKEP 1 Download

Akbarpost/Sesuai dengan kurikulum program pendidikan Ners 1998 bahwa pendidikan terdiri dari 2 tahap yaitu : tahap program akademik dan tahap program profesi. Praktik Profesi Keperawatan Jiwa merupakan salah satu rangkaian kegiatan pelaksanaan praktik profesi untuk meraih gelar perawat (Ners). Mata ajar ini diberikan pada Program Regular (Program A) dengan beban studi 3 sks dan Program Ekstensi (Program B) dengan beban studi 2 sks. Prasyarat untuk mengambil mata ajar profesi Keperawatan Jiwa adalah Keperawatan Jiwa untuk Program Ekstensi dan Keperawatan Jiwa I dan II untuk Program Reguler.

Fokus mata ajar ini menampilkan tentang pemberian pelayanan/asuhan keperawatan jiwa dalam pencegahan primer, sekunder, dan tersier terhadap klien dengan masalah bio-psiko-sosial-spiritual dan gangguan kesehatan jiwa termasuk intervensi kritis. Penggunaan diri secara terapeutik dan hubungan terapeutik digunakan sebagai alat dalam penerapan terapi modalitas keperawatan.

Melalui program profesi keperawatan kesehatan jiwa diharapkan peserta didik akan mampu memahami asuhan keperawatan jiwa dan melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan jiwa pada anak remaja, usia lanjut dan masyarakat serta mengintegrasikan keperawatan jiwa pada bidang keperawatan lain. Pengalaman belajar meliputi diskusi, pembahasan kasus, pengalaman belajar klinik, dan pengalaman belajar lapangan berupa kunjungan rumah.

Buku panduan Praktik Profesi Keperawatan Jiwa ini terdiri dari beberapa bab. Bab pertama merupakan bab pendahuluan. Bab kedua adalah penjelasan tentang tujuan dan kompetensi. Bab ketiga meliputi penjelasan tentang metode pembelajaran, tata tertib serta tempat dan waktu praktik. Bab keempat berisi keterangan tentang proses pelaksanaan praktik. Selanjutnya Bab kelima berisi informasi tentang evaluasi pembelajaran, dan bab keenam merupakan bab penutup.

Download Buku Panduan Praktik Profesi Keperawatan Jiwa

ASKEP 1 Download

Kesehatan/Sepsis neonatorum adalah infeksi bakteri pada aliran darah pada bayi selama empat minggu pertaman kehidupan. Mekanisme pertahanan neonatus selanjutnya menghambat complement yang lebih rendah, disfungsi monosit dan sirkulasi monosit dan leukosit menurun jumlah dan fungsinya tidak efesien.

Sepsis pada periode neonatal dapat diperoleh pada masa melalui plasenta yang berasal dari aliran darah maternal dan selama ingesti atau aspirasi yang dipengaruhi oleh cairan amnion. Pada waktu lahir, infeksi dapat terjadi dari kontak langsung dengan jaringan maternal selama perjalanan kelahiran. Agent infeksi umumnya E. coli yang mungkin terdapat dalam vagina yang berasal dari kontaminasi fekal. Candida albicans, virus herpeks, streptococcus hemolitik adalah mikroorganisme lain yang dapat menyebabkan infeksi pada neonatus yang mendiami vagina.

Respiratory distress syndrom yang idiopatik dikenal juga sebagai Hyalin Membrane Disease, hyaline membrane disease merupakan keadaan akut yang terutama ditemukan pada bayi prematur saat lahir atau segera setelah lahir, lebih sering pada bayi dengan usia gestasi dibawah 32 minggu yang mempunyai berat dibawah 1500 gram(Suryadi dan Yuliani, 2001). RDS adalah keadaan hipoksia dan cedera paru yang terjadi akibat atelektasis primer yang luas.

ARDS adalah suatu penyakit yang ditandai oleh kerusakan luas alveolus dan atau membran kapiler paru. ARDS selalu terjadi setelah suatu gangguan besar pada sistem paru, kardiovaskuler atau tubuh secara luas. Bangunan paru janin dan produksi surfaktan penting untuk fungsi respirasi normal. Bangunan paru dari produksi surfaktan bervariasi pada masing-masing bayi.

Bayi prematur lahir sebelum produksi surfaktan memadai. Surfaktan, suatu senyawa lipoprotein yang mengisi alveoli, mencegah alveolar kolaps dan menurunkan kerja respirasi dengan menurunkan tegangan permukaan. Pada defisiensi surfaktan, tegangan permukaan meningkat, menyebabkan kolapsnya alveolar dan menurunnya komplians paru, yang mana akan mempengaruhi ventilasi alveolar sehingga terjadi hipoksemia dan hiperkapnia dengan asidosis respiratory.

Reduksi pada ventilasi akan menyebabkan ventilasi dan perfusi sirkulasi paru menjadi buruk, menyebabkan keadaan hipoksemia. Hipoksia jaringan dan asidosis metabolik terjadi berhubungan dengan atelektasis dan kegagalan pernafasan yang progresif.

Atelektasis primer mengacu kepada keadaan kolapsnya alveolus secara substansial yang dijumpai pada bayi baru lahir. Dengan kolapsya alveolus maka ventilasi berkurang. Timbul hipoksia yang menyebabkan cedera paru dan terpacunya reaksi peradangan. Peradangan menyebabkan edema dan pembengkakkan ruang interstisium yang semakin menurunkan pertukaran gas antara kapiler dan alveolus yang masih berfungsi. Peradangan juga menyebabkan terbentuknya membran-membran hialin yang merupakan akumulasi fibrin putih di alveolus. Pengendapan fibrin tersebut semakin menurunkan pertukaran gas serta compliance paru maka usaha bernapas meningkat.

Penurunan ventilasi alveolus menyebabkan penurunan vasokonstriksi arteriol paru. Vasokonstriksi paru dapat menyebabkan peningkatan volume dan tekanan jantung kanan, sehingga terjadi pirau darah dari atrium kanan, melalui foramen ovale bayi baru lahir yang masih paten, langsung ke atrium kiri. Demikian juga, resistensi paru yang tinggi juga dapat menyebabkan darah deoksigenasi melewatkan paru dan langsung di salurkan ke sisi kiri tubuh melalui duktus arteriosus dan menyebabkan pirau kanan ke kiri. Pirau kanan ke kiri memperburuk keadaan hipoksia, sehingga timbul sianosis berat.

Untuk setiap usaha melakukan ventilasi pada alveolus yang kolaps, bayi harus mengeluarkan sejumlah besar energi. Pengeluaran energi tersebut akan diiringi oleh peningkatan kebutuhan oksigen yang semakin memperparah sianosis. Seiring dengan peningkatan kebutuhan oksigen bayi terperangkap dalam suatu siklus umpan balik positif.

Pada awalnya bayi akan memperlihatkan napas yang cepat dan dangkal sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan oksigennya yang tinggi, sehinga pada analisis gas darah mula-mula terjadi alkalosis respiratorik karena karbon dioksida terbuang. Namun, bayi akan segera kelelahan karena kesulitan mengembangkan alveolus dan parunya dan tidak dapat mempertahankan usaha respirasinya. Apabila hal ini terjadi, maka usaha bernapas melambat dan gas darah memperlihatkan asidosis respiratorik dan dimulainya kegagalan pernapasan.

Untuk lebih lengkapnya silahkan download disini






Kesehatan/Sejarah perkembangan pelayanan kesehatan di Indonesia yang didasarkan menuju pelayanan kesehatan masyarakat luas mulai dilakukan pada tanggal pada tanggal 20 April 1916 yang dilaksanakan atas Keputusan Direktur Pelayanan Kesehatan Sipil dari Pemerintah Hindia Belanda (Burgerlijke Geneeskundige Blants), menyatakan pelayanan kesehatan pada saaat itu memuaskan adanya, olehnya itu dirubah dan pada tahun 1925, Burgen liske Geneeskundige Dienst dirubah menjadi Dienst der Volksgenzonheid atau Dinas Kesehatan Rakyat.

Pada tahun 1951 oleh Prof. Sulianti telah dirintis adanya suatu pelayanan kesehatan pencegahan untuk ibu-ibu hamil, bayi-bayi dan anak-anak dalam bentuk bentuk Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak. Usaha ini kemudian dilanjutkan oleh dr. Leimena dan dr. Patah yang lebih terkenal dengan nama Bandung Plan.

Prinsip pelaksanaan Bandung Public Health Administration di Jenewa pada tanggal 21-25 September 1953 yang menyebutkan bahwa : “Panitia kemudian mendiskusikan hubungan antara preventive dan curative medicine dan menyetujui bahwa fungsi utama dari preventive medicine adalah memantapkan dan memajukan kesehatan dan fungsi utama bagi currative medicine sesungguhnya adalah dua aspek pada system pelayanan yang sama dan tidak dapat dipisahkan”.

Pada tahun 1956 dr. Sulianti kembali melakukan pengembangan kesehatan masyarakat dengan berdirinya proyek Bekasi sebagi proyek percontohan atau model pelayanan bagi pengembangan kesehatan masyarakat pedesaan di Indonesia sekaligus sebagai pusat pelatihan tenaga kesehatan.

November 1967 diadakan seminar yang membahas serta merumuskan tentang program kesehatan masyarakat. Konsep puskesmas dibahas oleh dr. Ahmad Dipodilogo dengan mengacu Bandung Plan dan Proyek Bekasi. Konsep ini menghasilkan kesepakatan seminar membangun puskesmas yang mempunyai tipe A, B, dan C. Dan pada tahun 1968 puskesmas resmi disahkan oleh pemerintah dalam rapat kerja kesehatan nasional.

Tahun 1969 konsep awal puskesmas yang awalnya tiga dirubah hingga menjadi dua yaitu tipe A dan B saja. Puskesmas tipe A dikelola oleh dokter, sedangkan puskesmas tipe B dikelola oleh paramedis. Kemudian dalam Rakerkesnas III tahun 1979 diputuskan bahwa Indonesia hanya ada sejenis puskesmas yang dikepalai dokter. Namun pada tahun 2000 yang mengepalai puskesmas tidak harus seorang dokter namun dapat seorang sarjana kesehatan masyarakat.

Sampai dengan tahun 2002 jumlah puskesmas di Indonesia mencapai 7.309. Hal ini berarti 3,6 puskesmas per 10.000 penduduk atau satu puskesmas dapat melayani sekitar 28.000 penduduk. Dengan mengacu pada hal ini maka jumlah dan kualitas puskesmas di Indonesia seharusnya selalu meningkat dan berkembang.

Untuk lebih lengkapnya silahkan download disini


Kesehatan/Komunikasi antara subsistem dalam tubuh terpenuhi melalui tiga modalitas. Pertama adalah sistem persarafan, dan yang lain adalah sekresi kimiawi seluler yang secara lokal berkontribusi pada cairan intersititiel. Contoh dari zat kimia tersebut termasuk yang mencetuskan respon inflamasi lokal, seperti histamin, komplemen, dan prostaglandin. Modalitas ketiga adalah sekresi kimiawi seluler yang disirkulasikan melalui aliran darah. Modalitas komunikasi antara subsistem yang terakhir ini lebih dikenal dengan sistem endokrin. Sekresi dari sel-sel endokrin disebut hormon.

Sampai pertengahan tahun 1950-an, batas perbedaan antara sistem endokrin dan sistem persarafan begitu jelas. Kemudian, dengan ditemukannya neuron hipothalamus yang mengahsilkan sekresi zat kimia darah, batas tersebut mulai kabur. Sekarang, hormon identik dengan yang dibentuk oleh kelenjar endokrin yang ditetapkan (seperti insulin, hormon adrenokortikotropik {ACTH, dan kolesistokinin pankreozimin {CCK-PZ}diketahui disekresi oleh berbagai bagian dari otak, yang fungsinya sebagai neurotransmitter).

Hormon-hormon ini dihasilkan oleh sel-sel saraf yang berasal dari area (nukleus) dihipothalamus yang terletak tepat diatas kiasma optikus dan sebelah lateral sampai ventrikel ketiga (supra optikus dan para ventrikular). Hormon Antidiuretik (ADH) dan Oksitosin “dikeluarkan” dari ujung aksonal sel-sel saraf ini kedalam jaringan ptuitari posterior, tempat hormon tersebut disimpan.

Impuls saraf dari sel-sel hipothalamus yang sama menyebabkan ptuitari posterior melepaskan hormon-hormon ini kedalam aliran darah. Karena proses pembentukannya pada jaringan saraf, ADH dan oksitosin kadang-kadang disebut sebagai bahan neurosekretori.

Hormon Antidiuretik (ADH) bekerja pada sel-sel duktus kolikegentes ginjal untuk meningkatkan permeabilitas terhadap air. Ini mengakibatkan peningkatan reabsorbsi air tanpa disertai dengan dan tidak tergantung pada reabsorbsi elektrolit apapun. Air yang direabsorbsi ini meningkatkan volume dan menurunkan osmolaritas cairan ekstraseluler (CES).

Pada saat yang sama keadaan ini menurunkan volume dan meningkatkan konsentrasi urine yang diekskresi. Istilah vasopresin yang berasal dari pengamatan dosis suprafisiologi ADH yang besar bekerja pada otot polos arteriole untuk meningkatkan tekanan darah. Meskipun aksi tekanan ADH ini tidak nampak mempunyai peranan dalam homeostasis normal tekanan darah, beberapa peneliti berpikirr bahwa keadaan ini membantu melawan turunnya tekanan darah yang diakibatkan oleh hemoragi atau keadaan hipovolemik drastis lainnya.

Sejumlah ADH yang sedikit sekali sebesar 2 nanogram bila disuntikan pada seseorang dapat menyebabkan antidiuresis, yakni berkurangnya ekskresi air oleh ginjal. Singkatnya bila hormon ADH ini tidak ada, maka duktus dan tubulus koligentes hampir tidak permeabel terhadap air, sehingga mencegah reabsorbsi air dalam jumlah berarti dan karena itu mempermudah keluarnya air yang sangat banyak kedalam urine, juga menyebabkan pengenceran urine yang berlebihan.

Sebaliknya, bila ada ADH maka permeabilitas duktus dan tubulus koligentes sangat meningkat menyebabkan sebagian besar air direabsorbsi sewaktu cairan tubulus melewati duktus koligentes sehingga air yang disimpan dalam tubuh akan lebih banyak dan menghasilkan urina yang sangat pekat.

Mekanisme yang tepat mengenai kerja ADH pada duktus untuk meningkatkan permeabilitas duktus baru diketahui sebagian. Tanpa ADH, membran luminal tubulus hampir inpermeabel terhadap air. Akan tetapi, segera setelah berada didalam membran sel terdapat sejumlah besar vesikel-vesikel khusus yang mempunyai pori-pori yang sangat permeabel terhadap air.

Bila ADH bekerja pada sel, ADH pertama bergabung dengan reseptor membran yang menyebabkan cAMP. cAMP selanjutnya menyebabkan posporilasi dari elemen-elemen didalam vesikel khusus, yang kemudian menyebabkan vesikel masuk kedalam membran sel apikal, jadi menyediakan banyak daerah yang bersifat permeabel terhadap air.

Semua proses ini terjadi dalam waktu 5 – 10 menit. Kemudian, bila tidak ada ADH seluruh proses berbalik dalam waktu 5 – 10 menit berikutnya jadi, proses ini secara temporer menyediakan banyak pori-pori baru yang mempermudah difusi bebas air dari tubulus kecairan peritubulus. Air kemudian diabsorbsi dari pipa duktus dan tubulus koligentes secara osmosis.

Untuk lebih lengkapnya silahkan download disini



Akbarpost//Gangguan jiwa yaitu sindrom atau pola perilaku atau psikologik seseorang yang secara klinik cukup bermakna dan secara berkaitan dengan suatu gejala penderitaan (distress) di dalam satu atau lebih fungsi penting dari manusia.

Dalam ilmu kedokteran pada umumnya maupun dalam ilmu kedokteran jiwa pada khususnya diagnosis merupakan suatu hal yang penting. Batasan diagnosis ialah suatu nama yang diberikan kepada suatu kumpulan gejala atau sindroma tertentu yang berkaitan dengan suatu etiologi atau patologi tertentu. Dalam ilmu kedokteran jiwa,etiologi seringkali merupakan hal yang kompleks.Dikenal 3 faktor utama yang dapat merupakan etiologi yaitu: factor organobiologik, factor psikoedukatif , dan factor sosiobudaya. Masing-masing factor dapat berdiri sendiri atau dapat saling tumpang tindih.

Untuk lebih lengkapnya silahkan download disini


Akbarpost//Varises adalah vena normal yang mengalami dilatasi akibat pengaruh peningkatanan tekanan vena. Varises ini merupakan suatu manifestasi yang dari sindrom insufiensi vena dimana pada sindrom ini aliran darah dalam vena mengalami arah aliran retrograde atau aliran balik menuju tungkai yang kemudian mengalami kongesti.

Bentuk ringan dari insufisiensi vena hanya menunjukkan keluhan berupa perasaan yang tidak nyaman, menggangu atau penampilan secara kosmetik tidak enak, namun pada penyakit vena berat dapat menyebabkan respon sistemuk berat yang dapat menyebabkan kehilangan tungkai atau berakibat kematian.

Nyeri, kemerahan, rasa terbakar, gatal, kram, kelemahan otot dan “tungkai lemas” merupakan keluhan yang biasanya dikeluhkan oleh sebagian penderita dengan insufisiensi vena. Selanjutnya apabila telah terjadi insufisiensi vena yang kronis dapat memicu terjadinya kerusakan kulit dan jaringan lunak dibawahnya lebih lanjut yang dapat menyebabkan kerusakan lebih berat.

Keadaan insufisiensi vena kronis akhirnya akan menyebabkan terjadinya perubahan kronis kulit dan jaringan lunak yang dimulai dengan bengkak ringan. Perjalanan sindrom ini akhirnya akan menghasilkan perubahan warna kulit, dermatitis stasis, selulitis kronis atau rekuren, infark kulit, ulkus, dan degenerasi ganas. Komplikasi berat yang dapat muncul sebagai akibat dati insufisiensi vena dapat berupa ulkus pada tungkai yang kronis dan sulit menyembuh, phlebitis berulang, dan perdarahan yang berasal varises, dan hal ini dapat diatasi dengan penanganan dan koreksi pada insufisiensi vena itu sendiri.

Untuk lebih lengkapnya silahkan download disini


Diberdayakan oleh Blogger.